Rkvartir

Tips Dan Trik Travel Indonesia
Artikel

Penyakit Cacing Hati Pada Sapi (Fascioliasis)

karena terinfestasi cacing FascioFascioliasis merupakan penyakit yang diakibatkan alasannya i Penyakit Cacing Hati pada Sapi (Fascioliasis)Gedangsari.com – Penyakit Cacing Hati pada Sapi (Fascioliasis).karena terinfestasi cacing FascioFascioliasis merupakan penyakit yang diakibatkan alasannya infestasi cacing hati (Fasciola hepatica ). Penyakit ini menimbulkan sapi menjadi kurus dan mempertinggi FCR sehingga menjadikan kerugian ekonomi. FCR (Feed Convertion Ratio) yakni kemampuan konversi pakan menjadi daging. Fasciola sp banyak ditemukan pada hati sapi terutama dikala hari raya Idul Adha. Terdapat banyak hati sapi yang tidak layak dikonsumsi la

Cing Fasciolaca hepatica merupakan anggota kelas Trematoda atau cacing daun. Cacing ini berbentuk pipih menyerupai lembaran-lembaran daun. Bagian anterior (kepala) berbentuk kerucut memanjang. Cacing ini juga mempunyai sepasang batil isap yang sanggup melekat pada badan inang. Batil isap pertama terletak pada kepingan ujung kepala yang berbentuk kerucut dan yang kedua sejajar dengan �pundak� dari cacing ini. Secara mikroskopis, badan cacing ini ditutupi oleh duri kutikula. Cacing ini ditemukan pada duktus biliverus hati sapi. Duktus biliverus yakni terusan dalam hati yang menyalurkan cairan empedu kedalam kantung empedu.

Siklus hidup cacing ini cukup rumit. Sapi menjadi terinfeksi alasannya memakan metaserkaria yang melekat pada rumput di tempat-tempat basah. Metaserkaria tersebut menetas dan tumbuh menjadi cacing muda di usus sapi. Cacing muda ini akan menembus dinding usus dan masuk ke hati. Di hati, cacing ini akan menjelma sampaumur dan bermigrasi ke duktus biliverus yang lebih besar. Cacing ini lalu akan kawin dan bertelur

Telur yang dihasilkan akan masuk ke dalam usus bersamaan dengan cairan empedu dikala dikeluarkan ke usus. Telur ini akan mengikuti anutan feses (kotoran) sampai keluar bersama feses. Telur ini akan menetas sesudah sembilan hari pada suhu optimal yakni 22�260C. Semakin rendah suhunya, maka akan semakin usang waktu yang diharapkan untuk telur sanggup menetas. Telur ini lalu akan menghasilkan mirasidium. Mirasidium tersebut akan berenang-renang (telur membutuhkan area yang lembap berair biar sanggup melanjutkan siklus hidupnya) mencari inang perantaranya yakni siput dari genus Lymnea. Mirasidium lalu akan menembus badan siput dan menjelma sporosist. Sporosist berkembang lagi menjadi redia dan serkaria. Serkaria ini akan keluar dari badan siput dan berenang-renang mencari substrat biar sanggup melekat pada batang-batang rumput. Serkaria akan menghasilkan dinding untuk melindungi dari keadaan merugikan dari lingkungan. Serkaia yang menghasilkan dinding ini disebut metaserkaria. Siklus dimulai kembali dikala sapi memakan rumput yg terkotori metaserkaria. Periode prepaten atau waktu yang diharapkan dari metaserkaria sampai munculnya telur pada feses yakni 10-12 minggu, sedangkan waktu yang diharapkan untuk menuntaskan seluruh siklus hidup nya yakni 17-18 minggu.

Sapi yang terinfestasi cacing hati mempunyai tanda-tanda klinis. Gejala klinis tersebut diantaranya yaitu diare, rambut kusam dan �njegrik�, kurus namun nafsu makan tinggi, tanda-tanda anemia dan ikterik (kekuningan pada mukosa tubuh). Gejala anemia dan ikterik terjadi kalau infestasi sudah berat.

Pencegahan sanggup dilakukan dengan menunjukkan pakan sapi dari areal lahan yang kering. Pakan yang berasal dari tempat lembap menyerupai pinggir sungai atau telaga jangan dipotong akrab dengan permukaan air, tetapi dipotong agak ke atas. Setelah itu, layukan pakan terlebih dahulu dengan menjemur di bawah matahari biar sanggup membunuh metaserkaria. Pembuatan kompos atau biogas sanggup dipakai untuk membunuh telur pada feses. Selain itu, pencegahan juga sanggup dilakukan dengan mengurangi populasi siput diperairan dengan cara alami, menyerupai menggembalakan angsa atau entok sebagai predator siput.